Idul Adha = "Pe-De-Ka-Te"
Idul Adha, lebaran kedua umat muslim setelah Idul Fithri. Mengingat lebaran, ada sesuatu yang sepertinya sudah menjadi tradisi, di kalangan anak2 di kampungku. Mereka dengan leluasa akan melakukan perbuatan yang agak "dewasa", Merokok!!!. Yah, demikianlah mereka menjalani lebaran dengan sukaria. Dengan pakaian yang serba baru, mereka akan berkeliling, dan hampir pasti kebiasaan "merokok" itu, pasti ada. Sebab, kan baru "salam tempel". Anehnya, rata-rata orang tua seperti terikat dalam perjanjian tak tertulis itu. Maka, melengganglah generasi muda kampungku itu dengan gagah berani...
Kedua lebaran ini menyimpan banyak nilai dan sebagian besar merupakan kebajikan yang berdasarkan Tuhan, baik sisi vertikal-horizontal vis a vis transendent-sosial. Dengan perjalanan panjang dalam menemukan dan mengaplikasi kebajikan transenden Tuhan, seharusnya kebajikan sosial mendapatkan porsi yang seimbang dalam kehidupan masyarakat yang beragama...
Kedua lebaran ini menyimpan banyak nilai dan sebagian besar merupakan kebajikan yang berdasarkan Tuhan, baik sisi vertikal-horizontal vis a vis transendent-sosial. Dengan perjalanan panjang dalam menemukan dan mengaplikasi kebajikan transenden Tuhan, seharusnya kebajikan sosial mendapatkan porsi yang seimbang dalam kehidupan masyarakat yang beragama...
Idul Adha, merupakan lebaran yang sejalan dengan ibadah haji. Seberapa banyak makna yang dapat ditangkap pada ritus agama Islam ini???. Banyak, setidaknya beberapa belum tergali dalam khasanah muslim. (Aku juga ga tahu banyak, hehe...). Namun, Qurban, merupakan tema terpenting dan terbanyak menarik perhatian. Bagi Aku, qurban adalah sarana untuk "PDKT", sesama muslim dan yang terpenting pula dalam masyarakat.
Ritual yang ditandai dengan penyembelihan hewan (biasanya Sapi, Kerbau, Kambing, dll) ini, menunjukkan kebajikan kepada Tuhan, dengan menggunakan perantaraan manusia lain, dalam hal ini, mereka yang kurang mampu dan berhak menerimanya. Kini, setelah mengalami perjalanan panjang dalam sejarahnya, qurban harus memiliki evolusi yang sejalan dengan perkembangan zaman. Sudah bukan saatnya lagi, bahwa nilai qurban hanya dipandang sebagai sarana mendekatkan diri pada-Nya dan memahami sebagai kewajiban belaka. Dengan qurban itu, selain umat muslim menyadari perintah Allah SWT yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, qurban harus dimaknai lebih sebagai sarana untuk meningkatkan tali cinta kasih sayang sesama manusia, bukan hanya sesama manusia seagama saja, namun lebih universal. Dan qurban, merupakan alat "PDKT"nya. Dengan ibadah ini, kita memupuk cinta antar sesama, dan walaupun kini, masih dan lebih banyak ditujukan buat umat se-agama saja, kelak evolusinya akan menggapai perubahan sejarah, ditujukan buat umat manusia, antar agama.
Semoga cinta kasih sayang antar sesama melalui sejarah panjang qurban akan membawa kedamaian dan kerukunan...
