Refleksi Setahun...
Tsunami, setahun sudah. Terima kasih untuk dunia. Thank To The World. Ada yang telah mulai diselesaikan, ada yang belum terjamah. Ada yang berpartisipasi aktif, ada yang sekedar cari untung. Dimana posisi dan peran setelah bencana itu datang dan pergi???
Dalam rentang setahun, banyak yang terjadi. Penanganan bencana mulai jalan. Aceh Damai (moga untuk selama-lamanya). Perjanjian terakhir biarlah jadi meja runding yang terakhir pula. Yang belum terselesaikan, mari selesaikan dengan lebih baik, dan Damai. Semoga pula, cerita tentang kebiasaan mendengar letusan Bom dan Senjata sebelum aku terlelap, hanya jadi cerita buat pengantar tidur generasi mendatang. Terima kasih buat seluruh keluarga besar GAM, atas fikiran yang jernih untuk damai, mari diisi dengan semangat membangun Aceh kembali. Masa lalu dijadikan renungan untuk masa yang akan datang.
Syari'at Islam, jalan di tempat. Hukum cambuk (apakah cuma sebatas itu???) hanya buat masyarakat kecil, tanpa menyentuh yang lebih besar. Judi, Minuman Keras, Khalwat, dll, jangan dijadikan trend selamanya dalam penegakan hukum itu sendiri. Sentuhlah secara menyeluruh, Kaffah. Peran Ulama di Aceh, yang masih sering beretorika di mimbar, tanpa membimbing masyarakat, langsung di lapangan, hendaknya diganti, Dong. Jaman udah berganti, waktu berputar. Metode harus mengikuti kebutuhan ummat. Tataran yang ditawarkan masih sebatas normatif-langit, tak bisakah di buat versi bumi???. Setelah bencana, seberapa terlibatkah mereka dalam kehidupan???. Sedikit sekali, kalau tidak dikatakan 'ga ada' sama sekali. Konon, di tengah kedamaian hidup, mereka yang dikatakan (dan mengatakan diri sendiri) sebagai "Pewaris Nabi" mesti harus berpartisipasi secara (Pola Politik Luar Negeri Kita) Bebas dan Aktif, apalagi di tengah kekacauan ini. Duh, kesucian tidak bisa lagi hanya ditunjukkan, di Mesjid, Surau, Bilik2 Pesantren, Ummat butuh kalian di lapangan. Di Lapangan. Pengisian spiritual masyarakat yang terkena bencana langsung dan tidak langsung, mesti dilaksanakan secara serius dan kontinyu. Ga bisa lagi cuma "memaki" di mesjid, dan membelai jenggot dengan bidadari yang bergelantungan padanya...
Jangan salahkan, bila Isu Pemurtadan semakin ramai dibicarakan. Dimana ulama2 yang berbau surga berada???. Di Mesjid, Surau dan Bilik2 Pesantren???. Ayolah, cukup hari bencana itu saja, aku melihat bagaimana sikap sebuah solidaritas agama (Islam) yang sering ditawarkan di Mesjid, namun realitas yang ditunjukkan dilapangan, Ooooooohhhh... >>Seperti seorang Khatib yang sering naik mimbar, dengan ide dan sikap "ukhuwah" yang sering keluar dari mulut sucinya, bahkan tega membayar adik angkatan-ku, untuk mengangkat dan memindahkan mayat manusia (yang katanya saudara), yang dititipkan Tuhan di depan pintu rumahnya???. Bagaimana ini..., Buat Tuan, Teungku, Abu, Tuangku, Ustadz, dll, tunjukkanlah di lapangan, di hadapan masyarakat, bahwa inilah teladan yang sebenarnya...
Dalam rentang setahun, banyak yang terjadi. Penanganan bencana mulai jalan. Aceh Damai (moga untuk selama-lamanya). Perjanjian terakhir biarlah jadi meja runding yang terakhir pula. Yang belum terselesaikan, mari selesaikan dengan lebih baik, dan Damai. Semoga pula, cerita tentang kebiasaan mendengar letusan Bom dan Senjata sebelum aku terlelap, hanya jadi cerita buat pengantar tidur generasi mendatang. Terima kasih buat seluruh keluarga besar GAM, atas fikiran yang jernih untuk damai, mari diisi dengan semangat membangun Aceh kembali. Masa lalu dijadikan renungan untuk masa yang akan datang.
Syari'at Islam, jalan di tempat. Hukum cambuk (apakah cuma sebatas itu???) hanya buat masyarakat kecil, tanpa menyentuh yang lebih besar. Judi, Minuman Keras, Khalwat, dll, jangan dijadikan trend selamanya dalam penegakan hukum itu sendiri. Sentuhlah secara menyeluruh, Kaffah. Peran Ulama di Aceh, yang masih sering beretorika di mimbar, tanpa membimbing masyarakat, langsung di lapangan, hendaknya diganti, Dong. Jaman udah berganti, waktu berputar. Metode harus mengikuti kebutuhan ummat. Tataran yang ditawarkan masih sebatas normatif-langit, tak bisakah di buat versi bumi???. Setelah bencana, seberapa terlibatkah mereka dalam kehidupan???. Sedikit sekali, kalau tidak dikatakan 'ga ada' sama sekali. Konon, di tengah kedamaian hidup, mereka yang dikatakan (dan mengatakan diri sendiri) sebagai "Pewaris Nabi" mesti harus berpartisipasi secara (Pola Politik Luar Negeri Kita) Bebas dan Aktif, apalagi di tengah kekacauan ini. Duh, kesucian tidak bisa lagi hanya ditunjukkan, di Mesjid, Surau, Bilik2 Pesantren, Ummat butuh kalian di lapangan. Di Lapangan. Pengisian spiritual masyarakat yang terkena bencana langsung dan tidak langsung, mesti dilaksanakan secara serius dan kontinyu. Ga bisa lagi cuma "memaki" di mesjid, dan membelai jenggot dengan bidadari yang bergelantungan padanya...
Jangan salahkan, bila Isu Pemurtadan semakin ramai dibicarakan. Dimana ulama2 yang berbau surga berada???. Di Mesjid, Surau dan Bilik2 Pesantren???. Ayolah, cukup hari bencana itu saja, aku melihat bagaimana sikap sebuah solidaritas agama (Islam) yang sering ditawarkan di Mesjid, namun realitas yang ditunjukkan dilapangan, Ooooooohhhh... >>Seperti seorang Khatib yang sering naik mimbar, dengan ide dan sikap "ukhuwah" yang sering keluar dari mulut sucinya, bahkan tega membayar adik angkatan-ku, untuk mengangkat dan memindahkan mayat manusia (yang katanya saudara), yang dititipkan Tuhan di depan pintu rumahnya???. Bagaimana ini..., Buat Tuan, Teungku, Abu, Tuangku, Ustadz, dll, tunjukkanlah di lapangan, di hadapan masyarakat, bahwa inilah teladan yang sebenarnya...
Rekontruksi dan Rehabilitasi juga sudah dilembagakan. BRR, dengan slogan yang keren: Remember, Rebuild. Bekerjalah dengan tenang, serius dan cepat. Jangan Korupsi, yah!!!. Berbuatlah yang terbaik, tunjukkan bahwa masih ada harapan untuk masa depan pada bangsa ini. Galang partisipasi yang lebih banyak dari masyarakat, ajak dan sampaikan. Yakinkan semua, agar bangkit secara kolektif. Perkecil peluang korupsi, kolusi dan hal berbau (berbau aja, jangan!!!) negatif, dalam proses ini.
Untuk kalian, maafkan dosa-silap yang pernah ada dan beristirahatlah dengan tenang...
Untuk kalian, maafkan dosa-silap yang pernah ada dan beristirahatlah dengan tenang...
- Reza Ul Haq "O-Rock" (Arsitek USK 2000). Teman dari SMU...
- Fedrian, Nyak Fajri, Yassir, Ika Elvarina, Yusmita (Elektro USK 2000). Kapan lagi kita bisa berbagi???
- Arifki T. Baziat, banyak yang hilang darimu...
- Hilmiati (AKBID Muhammadiyah 2001), Kapan bisa konsultasi lagi???
- Seluruh kalian yang pernah ada dalam hidupku...I Miss U All...
